23 Mei 2013

Kabupaten Kayong Utara







Demografi
Iklim

Kabupaten Ketapang

Demografi

Kabupaten Ketapang secara geografis berada di sisi Selatan Provinsi Kalimantan Barat atau berada pada posisi 0o19'58" Lintang Selatan sampai dengan 3o02'5" Lintang Selatan dan 109o48'19" Bujur Timur sampai dengan 111o20'34" Bujur Timur. 
Sedangkan secara administratif, batas wilayah Kabupaten Ketapang adalah sebagai berikut : 
" Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kayong Utara , Kubu Raya dan Selat Karimata, 
" Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Melawi dan Provinsi Kalimantan Tengah,
" Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Sanggau, dan Kabupaten Sekadau, 
" Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa. 
Kabupaten Ketapang yang beribukota di Ketapang memiliki luas 31.240,74 Km2 atau 21,28%, yang terbagi dalam 249 Desa dan 20 Kecamatan, Kecamatan yang memiliki wilayah terluas adalah Kecamatan Kendawangan (5.859 km2 atau 18,55% dari luas Kabupaten Ketapang ). dan Kecamatan dengan wilayah terkecil adalah Kecamatan Delta Pawan yaitu 74 km atau 0,23% dari luas Kabupaten Ketapang.
Komoditi unggulan Kabupaten Ketapang yaitu sektor perkebunan, pertanian dan jasa. Sektor Perkebunan komoditi unggulannya adalah Kelapa Sawit, Kakao, Karet, kopi, Kelapa dan lada. Sub sektor Pertanian komoditi yang diunggulkan berupa Jagung, Kedelai, Ubi Jalar dan Ubi kayu.
Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di wilayah ini tersedia 1 bandar udara, yaitu Bandara Rahardi Oesman, Untuk transportasi laut tersedia 3 pelabuhan, antara lain Pelabuhan Ketapang, Pelabuhan Telok Melano dan Pelabuhan Kendawangan.

Tekanan Udara
Rata-rata tekanan udara di wilayah Kabupaten Ketapang sepanjang tahun 2009 relatif konstan yaitu pada kisaran 1010,3 milibar. Dimana tekanan udara minimum sebesar 1005 milibar dan tekanan maksimum sebesar 1015 milibar
Kondisi iklim seperti intensitas curah hujan dan kecepatan angin besar pengaruhnya terhadap kelancaran arus transportasi dan keluar masuknya arus barang dan jasadari dan ke Kabupaten Ketapang, karena sarana transportasi utama dengan wilayah luas Kabupaten Ketapang adalah masih bergantung pada sarana transportasi laut dan udara.
Kemudian perubahan ilim secara umum tentunya besar pengaruhnya terhadap pola tanam dan hasil?hasil produksi pertanian. Diduga perubahan iklim dewasa ini yang mempengaruhi penurunan produksi beserta komoditi pertanian di Kabupaten Ketapang.

Kecepatan angin
Rata-rata kecepatan angin di wilayah Kabupaten Ketapang pada tahun 2009 adalah sebesar 5,4 Knot. Terlihat cenderung mengalami kenaikan kecepatan angin dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Rata?rata kecepatan angin tertinggi terjadi pada bulan September yaitu sebesar 6,8 Knot, dan terendah pada bulan Mei yaitu sebesar 4,2 Knot, dengan kecepatan angin terbesar pada skala 10?20 Knot sepanjang tahun 2009

Curah Hujan
Curah hujan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah iklim, keadaan geografi dan perputaran/pertemuan arus udara. Pada tahun 2009 rata-rata curah hujan di Kabupaten Ketapang lebih tinggi intensitasnya bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 301,2 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata sekitar 13,8 hari per bulan.
Curah hujan pada tahun 2009 termasuk yang paling tinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir, namun jumlah rata-rata hari hujan relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa intensitas curah hujan pada tahun 2009 relaf lebih lebat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya selama lima tahun terakhir. Intensitas curah hujan dan jumlah hari hujan di Kabupaten Ketapang relatif berfluktuasi. Kenaikan intensitas terjadi antara bulan Maret-April dan September-Oktober, sedangkan penurunan intensitas terjadi antara bulan Januari-Februari dan April-Juli
Adanya perubahan iklim global pada beberapa tahun terakhir juga memberi dampak langsung terhadap perubahan iklim di Kabupaten Ketapang. Hal ini terlihat dengan adanya pergeseran pola curah hujan dan hari hujan bila cermati keterbandingannya antar waktu dari tahun ke tahun.

Kelembaban Udara
Pada Stasiun Meteorologi yang sama, rata-rata kelembaban nisbi/ kelembaban udara pada tahun 2009 tercatat sekitar 83,2 persen. Kelembaban udara ini relatif lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Adapun kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan November yaitu sekitar 87,0 persen, dan kelembaban udara terendah tercatat pada bulan Agusutus yaitu sekitar 79,7 persen

Keadaan Iklim
Secara Geografis wilayah dekat dengan garis Katulistiwa maka temperatur udara tergolong tinggi. Menurut catatan Stasiun Meteorologi Rahadi Osman Ketapang pada tahun 2009 temperatur udara rata-rata berkisar 27,3 0C. Suhu terendah tercatat pada bulan Januari dan November yaitu berkisar 26,9 0C dan suhu tertinggi terjadi pada bulan Juni yaitu berkisar 27,7 0C. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, temperatur udara pada tahun 2009 secara rata-rata relatif tidak mengalami banyak perubahan.

Potensi Perikanan dan Kelautan
Sektor Kalautan dan Perikanan di Kabupaten Ketapang memiliki peran yang cukup besar. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kontribusi sektor perikanan terhadap peningkatan PDRB Kabupaten Ketapang pada tahun 1999 mencapai 6,87 % dengan tingkat pertumbuhan rata-rata dari tahun 1995-1999 sebesar 4,34 %.
Perkiraan potensi lestari perikanan tangkap dilaut sebesar 403.660,8 ton yang terdiri dari sumber pelagis dan demersal sebagaimana tabel berikut :
Perkiraan Potensi Ikan Perairan Laut
Wilayah Perairan
Domersal (ton)
Pelagis (ton)
T o t a l (ton)
Pantai ( s/d 4 mil )
Lepas pantai (s/d 12 mil)
Lepas Pantai ( > 12 mil)
4.992
15.360
384.000
8.832
9.984
249.600
13.824
25.344
633.600
Jumlah
404.352
268.426
672.758
Potensi Ikan Lestari
242.611,2
161.049,6
403.660,8
Lokasi pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Ketapang berbasis pada 9 TPI/PPI dan desa nelayan yang potensial meliputi : Kec. Kendawangan, Matan Hilir Selatan, Matan Hilir Utara, berpusat di PPI Ketapang, Kec. Pulau Maya Karimata berpusat di PPI Dusun Besar, sedangkan Kec. Sukadana, Simpang Hilir dan Teluk Batang berpusat di Pelabuhan Perikanan Teluk Batang.
Produksi Perikanan dan Sarana Produksi di Kabupaten Ketapang, dapat dilihat pada tabel berikut.
Produksi Perikanan dan Sarana Produksi di Kabupaten Tahun 1999.
No.
Kegiatan
Jumlah
Satuan
A.
1.
2.
3.
PRODUKSI
Perikanan Laut
Perairan Umum
Budidaya
21.245,3
20.172,0
1.046,5
26,8
Ton
Ton
Ton
Ton
B.
a.


b.
2.
3.
SARANA PRODUKSI
Penangkapan (Laut)
  • Perahu Tanpa Motor
  • Motor Tempel
  • Kapal Motor
  • Alat Tangkap
Nelayan
Perairan Umum
Penangkapan
  • Perahu Tanpa Motor
  • Motor Tempel
  • Alat Tangkap
Budidaya
  • Kolam
  • Tambak
  • Laut
1.143
321
1.010
5.221
 
8.745
 
637
45
3.110
 
58
973
-
Unit
Unit
Unit
Unit
 
Orang
 
Unit
Unit
Unit

Ha
Ha
-

PERIKANAN
Di Kabupaten Ketapang terdapat 108 pulau-pulau kecil, dimana yang berpenghuni 56 pulau dan yang tidak berpenghuni 52 pulau.
Disamping potensi perikanan tersebut, masih terdapat potensi barang-barang berharga dari kapal tenggelam yang diperkirakan terdapat pada 10 titik yang berada disekitar Kepulauan Karimata dan Pulau Serutu.

PELUANG PENGEMBANGAN
Dari gambaran potensi diatas, komoditas perikanan yang dapat dikembangkan meliputi perikanan tangkap dan budidaya dapat dilihat pada tabel berikut.
Jenis Komoditas yang dapat dikembangkan.
No.
Kegiatan
Jenis Komoditas
1.
2.
3.
 
Penangkapan ikan laut
Budidaya Air Tawar
Industri Perikanan dan Kelautan
Udang, Kakap Merah, Kerapu, Kakap Putih, Tenggiri, Bawal, Tongkol, Rajungan. Udang Galah, Ikan Mas dan Nila Merah.
Pabrik Es, Cold Storage dan Dok Kapal Ikan.
Perkiraan luas area yang dapat dikembangkan untuk budidaya air payau dapat dilihat pada tabel berikut :
Potensi dan peluang usaha budidaya Tambak Kabupaten Ketapang
No.
Komoditas / Kecamatan
Potensi
(luas Ha)
Peluang (luas Ha)
 
1.
 
 
 
 
 
 
 
 
2.
 
 
Udang Windu
( budidaya Tambak )
  • P. Maya Karimata
Dusun Besar dan Dusun Kecil
  • Matan Hilir Utara
Tj. Baik Budi, Tolak, Satong, Siduk,
S. awan Kiri, S. Putri dan Suka Bangun
  • Kendawangan
Air Hitam
Hatchery
 
10.800
 
2.500
 
3.300
 
 
5.000
 
2 Unit
 
 
9.715
 
2.440
 
3.075
 
 
4.200
 
1 Unit
Pulau – pulau yang dapat dikembangkan baik secara sentra produksi perikanan maupun wisata bahari terdapat pada dua Kecamatan, dimana pulau-pulau tersebut dikelilingi oleh Karang dan pantai pasir putih. 
Pulau – pulau yang dapat dikembangkan untuk budidaya laut Kab. Ketapang
No.
Lokasi ( Kec. )
Nama Pulau
Komoditas Budidaya Laut
 
1.
 
 
 
2.
 
Kec. Pulau Maya Karimata
 
 
 
Kec. Kendawangan
 
1. Pelapis
2. P.Karimata
3. P. Serutu
 
1. P. Cempedak
2. P. Bawal
3. P. Gelam
 
 
Kerapu, Kakap
Putih, Beronang,
Lobster, Rumput Laut, Kerang.
Mutiara dan teripang




22 Mei 2013

Kabupaten Kubu Raya


Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, sebagai kabupaten termuda terus menggali potensi ekonomi lokal, secara khusus potensi perikanan, yang tersebar di banyak kecamatan.  Kebijakan yang sudah dijalankan pada tahap awal yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat sudah melakukan pemetaan sumber daya ikan di setiap kecamatan. 

Demografi
Kabupaten Kubu Raya merupakan bagian terdepan dari Propinsi Kalimantan Barat yang secara geografis terletak diantara Koordinat  1080 35’–1090 58’ BT 00 44’ LU – 10 01’ LS. Kabupaten Kubu Raya adalah Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Pontianak yang terbentuk melalui Undang Undang No. 35 tahun 2007. Dengan luas wilayah 6.985,20 Km2 (kurang lebih meliputi 65 % dari Kabupaten induk)
Wilayah administratif Kabupaten Kubu Raya meliputi 9 Kecamatan yaitu: Batu Ampar, Terentang, Kubu, Teluk Pakedai, Sungai Kakap, Rasau Jaya, Sungai Raya, Sungai Ambawang, Kuala Mandor B. Kecamatan terluas adalah Kecamatan Batu Ampar dengan luas 2.002,70 Km2 dan Kecamatan yang terkecil adalah Kecamatan Rasau Jaya dengan luas 111,07 Km2.

Batas Wilayah
 Secara administrasi Kabupaten Kubu Raya berbatasan dengan :
- Utara     : Kabupaten Pontianak;
- Selatan    : Kabupaten Ketapang;
- Timur     : Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau;
- Barat     : Laut Natuna.

Populasi Penduduk
Penduduk Kabupaten Kubu Raya berjumlah 500.970 (2010) jiwa dengan tingkat kepadatan 72 jiwa per Km2, secara historis hidup rukun dan damai, dengan komposisi penduduk yang multi ras dan multi agama, pemeluk agama sebagian besar adalah Islam (82%), sangat toleran terhadap pendatang sehingga akulturasi antar budaya terjadi secara alami. Jumlah angkatan kerja penduduk Kubu Raya tahun 2008 tercatat sebesar  234.144 orang, dengan komposisi sedang bekerja 197.429 orang dan mencari kerja 36.685 orang. Konsentrasi penduduk tertinggi terdapat di tiga kecamatan yaitu Sungai Raya yang merupakan Ibukota Kabupaten, Sungai Kakap dan Sungai Ambawang. Hal ini sangat logis mengingat ketiga kecamatan tersebut merupakan daerah yang mengelilingi Ibukota Propinsi Kalimantan Barat yaitu Kota Pontianak.

Topografi dan Iklim
Kabupaten Kubu Raya secara umum merupakan daerah dataran yang relatif datar dengan kemiringan lahan 0 – 3% seluas 792.320 Ha (98%), Daerah lereng 3 – 15 % seluas 7.205 Ha dan kelerengan diatas 40 % seluas 850 Ha. Luas wilayah lautan seluas 2.197 Km2 dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten, yaitu 6.985,20 Km2, yang terdiri dari 1.437 Km2 Luas Laut dan 760 Km2 Luas Perairan Umum dengan garis pantai sepanjang 149 Km dan memiliki 39 pulau-pulau kecil. Sedangkan luas wilayah daratannya adalah 4.785 Km2.
Iklim di Kubu Raya termasuk dalam type Iklim A (Schmit & Ferguson) yaitu iklim sangat basah dengan curah hujan bulanan diatas 100 mm dengan total curah hujan tahunan rata-rata berkisar 3000mm. Suhu rata-rata maksimum 33,40 C terjadi pada bulan mei dan suhu minimum rata-rata 22,50 C terjadi pada bulan Agustus.  Kondisi topografi dan iklim di Kubu Raya sangat menunjang untuk investasi agrikultur.

Potensi Perikanan
 Kubu Raya merupakan penghasil produk khas, seperti kepiting dan udang galah. Sudah saatnya menjadikan Kubu Raya penghasil dan pengekspor produk tersebut.
 Prospek perikanan Kubu Raya sebetulnya sangat menjanjikan. Sebab sebagai daerah besar, di mana sebagian wilayahnya berada di kawasan pesisir pantai dan perairan, kabupaten ini memiliki peran besar bagi Kalbar.  Tidak hanya potensi perikanan ikan air tawar. Ada juga perikanan air asin yang bisa diandalkan, (seperti) kepiting dan udang galah, merupakan varian perikanan berprospek bagus.

Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebelumnya telah mengakui jika kepiting di kabupaten ini lebih bagus dibandingkan dengan daerah lain. Selain dagingnya padat juga besar, sehingga memiliki kualitas ekspor. Begitu juga dengan udang galah. Ini seharusnya ditangkap dan dikembangkan kedepannya.
Kualitas kepiting dan udang galah di Kabupatan Kubu Raya sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis dan alam di kabupaten ini. Akibatnya, tentu saja pertumbuhan habitat ikan dan sejenisnya memiliki karakteristik. Hanya saja, dia menyayangkan kebiasaan masyarakat yang kerap menangkap kepiting dari alam, sehingga dikhawatirkan berpengaruh pada populasi kepiting itu sendiri.

Dikhawatirkan, jika tidak diantisipasi sedini mungkin, bisa mengakibatkan kepunahan kepiting. Jelas ini akan sangat berpengaruh pada kondisi ekosistem. Untuk itu, harus ada rencana melakukan pengembangbiakan kepiting di beberapa lokasi yang cocok  Pembudidayaan sebagai langkah untuk menyelamatkan habitat kepiting, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini, menurut dia, mengingat prospek kepiting dan udang galah ke depan masih lebih baik. 

Kota Singkawang Kalimantan Barat




Kota Singkawang merupakan salah satu bentuk pemerintahan Kota di Kalimantan Barat, setelah pemerintahan kota pontianak, terletak di antara Kabupaten Sambas dan Kabupaten Bengkayang, secara geografis terletak pada 0o45' LU - 1o01'LU dan 108o51' BT - 109o10' BT, dengan batas wilayahnya :
Dengan luas wilayah 504 km², Singkawang terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat di antara 0°44’55,85” - 1°01’21,51"LS 108°051’47,6”-109°010’19”BT.
Demografi
Singkawang memperoleh status kota berdasarkan UU No. 12/2001, tanggal 21 Juni 2001. Berdasarkan Perdda kota singkawang Nomor ! Tahun 2003 tentang perubahan Desa menjadi Kelurahan di Kota Singkawang dan Perda Nomor 2 Tahun 2003 tentang pembentukan dan perubahan nama Kecamatan di Kota Singkawang sesuai dengan ketentuan tersebut di atas, terdapat 5 (lima) Kecamatan dan 26 Kelurahan
Dengan luas wilayah 504 km², Singkawang terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat di antara 0°44’55,85” - 1°01’21,51"LS 108°051’47,6”-109°010’19”BT.
Batas-batas wilayah Kota Singkawang adalah:
Utara    : Kecamatan Selaku, Kabupaten Sambas
Selatan : Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang
Barat    : Laut Cina Selatan, Laut Natuna, samudra Pasifik
Timur   : Kecamatan samalantan, Kabupaten Bengkayang
Populasi Penduduk
Populasi penduduk kota Singkawang setiap tahun mengalami peningkatan. Berdasarkan data Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Singkawang pada tahun 2011, tercatat sebanyak 246.306 jiwa, mayoritas penduduk adalah orang Khek sekitar 42% dan selebihnya orang Melayu, Dayak, Tio Ciu, Jawa dan pendatang lainnya. Penduduk di kota ini tersebar di lima kecamatan, yakni Singkawang Selatan, Singkawang Timur, Singkawang Utara, Singkawang Barat dan Singkawang Tengah. Dari lima daerah ini terdapat 26 kelurahan.
Untuk Singkawang Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang pada 2006 terdapat 37.396 jiwa. Tahun berikutnya 2007 bertambah menjadi 40.708 jiwa dan pada tahun 2008 yang lalu ada 41.466 jiwa. Di Singkawang Timur pada 2006 terdapat 18.951 jiwa dan tahun 2007 menjadi 19.022 jiwa. Jumlah itu naik menjadi 19.054 jiwa pada tahun 2008. Singkawang Utara tahun 2006 terdapat 20.287 jiwa. Pada tahun berikutnya, yaitu 2007 dihuni oleh 21.160 jiwa. Peningkatan terjadi lagi pada tahun 2008 menjadi 21.401 jiwa. Wilayah Singkawang Barat tahun 2006 silam tercatat 59.534 penduduk. Jumlah tersebut naik secara signifikan pada 2007 menjadi 60.307 jiwa. Pada 2008 sebanyak 60.656 jiwa hidup di Singkawang. Terakhir di Singkawang Tengah tahun 2006 ada 52.132 jiwa. Sedangkan tahun 2007 terdapat 55.882 jiwa. Jumlah yang signifikan terjadi pada 2008 menjadi 56.330 orang. Kesemua penduduk itu tersebar di wilayah Kota Singkawang yang memiliki luas 504,00 km2. Laju pertumbuhan penduduk Kota Singkawang pada tahun 2006 sekitar 5,6 persen.
Iklim
Secara umum wilayah Kota Singkawang beriklim tropis dengan suhu rata-rata berkisar antara 21,8 °C sampai dengan 30,05 °C. Iklim tropis di wilayah Kota Singkawang termasuk klasifikasi iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 2.819 mm/tahun atau 235 mm/bulan. Jumlah rata-rata hari hujan 157 hari/tahun atau rata-rata 13 hari hujan/bulan. Rata-rata kelembaban udara di kota Singkawang adalah 70%. Curah hujan yang tertinggi terjadi pada bulan September sampai dengan Januari dan curah hujan terendah antara bulan Juni sampai dengan Agustus. Kota Singkawang memiliki wilayah datar dan sebagian besar merupakan dataran rendah antara 50 meter s/d 100 meter diatas permukaan laut. Kota Singkawang yang terletak pada 0° LS dan 109° BT, wilayahnya merupakan daerah hamparan dan berbukit serta sebelah Barat berada pada pesisir laut.
Potensi Perikanan
Kekayaan sumberdaya alam perikanan merupakan keunggulan komperatif yang dapat diandalkan dalam menunjng  percepatan pembangunan daerah apabila potensi tersebut dikelola dan dimanfaatkan dengan memperhatikan prnsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Hingga saat ini potensi perikanan dan kelautan Kota Singkawang belum dikelola secara optimal. Laut yang termasuk wilayah kewenangan pengelolaan Kota Singkawang yaitu sejauh 4 mil dari tepi pantai atau seluas 278,54 km dengan potensi perikana tangkap sebesar 835,62 ton per tahun dan produksi perikanan laut nusantara 36.984,38 ton per tahun. Tingkat pemanfaatan sumberdaya laut di perairan Kota Singkawang termasuk perairan nusantara yang dilakukan oleh nelayan setempat baru 28,96% dari potensi yang tersedia (Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Singkawang, 2005). Oleh karena itu usaha penangkapan ikan masih sangat prospektif.
Kondisi perikanan tangkap Kota Singkawang sebagian besar masih dalam bentuk usaha menengah dan kecil. Dari 438 buah armada yang bergerak dalam bidang perikanan tangkap, 75% berupa armada penangkapan dengan bobot kapal kurang dari 5 GT. Dengan armada penangkapan skala kecil, ruang gerak nelayan menjadi terbatas karena tidak mampu beroperasi lebih jauh sehingga konsentrasi penangkapan (fishing ground) berada di perairan kurang dari 4 mil. Konisi demikian berimplikasi pada rendahnya tingkat pendapatan dan rentan terjadi gejolak social masyarakat akibat perebutan lahan penangkapan di daerah pantai, di sisi lain, sumberdaya ikan lepas pantai masih sedikit dimanfaatkan.
Pola pemanfaatan ikan hasil tangkap di Kota Singkawang umumnya masih dipasarkan untuk konsumsi dalam bentuk ikan segar, hanya sebagian kecil dalam bentuk olajan tradisional menjadi ikan asin atau terasi. Dengan kata lain pemanfaatan sumberdaya perikanan masih bertumpu pada eksploitasi sumberdaya alam semata belum ada upaya ke arah peningkatan nilai tambah. Padahal sifat tangkapan musiman akan menyebabkan rendahnya harga ikan pada waktu puncak musim penangkapan ikan. Melimpahnya hasil tangkapan ikan akan mengakibatkan harga jual ikan tersebut sangat rendah, sedangkan ikan menjadi komodistas yang cepat mengalami penurunan mutu (Dendi dkk, 2005). Kondisi demikian menjadi isu penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan agribisnis perikanan tangkap di Kota Singkawang. Oleh karena itu, pengembangan agribisnis perikanan tangkap selain orientasinya pada peningkatan produksi perlu upaya disservikasi usaha untuk lebih meningkatkan nilai tambah melalui upaya pengelolaan pasca panen perikanan yang sederhana seperti pembuatan ikan asin, pengasapan ikan, abon ikan, pindang ikan, dan pengolahan ikan tradisional lainnya merupakan alternative pengelolaan pasca panen yang memungkinkan untuk dikerjakan oleh nelayan kecil karena tidak membutuhkan biaya yang besar. Sedangkan pengolahan perikanan skala besar meliputi pembekuan dan penyimpanan dingin, pengalengan, dan pembuatan tepung ikan perlu dikembangkan melalui pola kemitraan antara nelayan dengan pengusaha perikanan.
Singkawang memiliki pelabuhan tipe D yaitu pangkalan pendaratan ikan (PPI) Kuala dengan dua buah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yaitu TPI kUala dan TPI Sedau. Adapun alat tangkap yang digunakan nelayan Singkaang adalah jarring plastic, jarring insang, bagan, lampara dasa, paying, pancing, pukat pantai, jaring hanyut, serok, sero, jermal dan bubu. Jenis-jenis ikan yang tertangkap atau didaratkan di TPI pada umumnya ikan pelagis kecil seperti kaben, tambang, kembung, dan ikan laying, ikan pelagis besar seperti tongkol, bawal, dan tenggiri serta ikan dememersal seperti manyung, hiu, kakap merah, kerapu dan udang. PPI Kuala sebagai sentra penolahan kegiatan perikanan tangkap Singkawang tidak dapat berfungsi dengan baik, karena mengalami pendangkalan karena sedimentasi lumpur. Hal ini menyebabkan kapal-kapal ikan tidak dapat berlabuh dan bongkar muat di dermaga PPI, tetapi berlabuh dan bongkar muat di tempat lain sepanjang pinggir sungai dengan dermaga sederhana yang dbuat secara swadaya bahkan ada kegiatan diantara armada perikanan tangkap Kota Singkawang tidak lagi melakukan bongkar muat dan labuh di PPP Singkawang, tetapi pindah di PPP Selakau dan Pelabuhan perikanan Pemangkat yang berada di luar wilayah Kota Singkawang.








Kabupaten Sambas




Kabupaten Sambas adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sambas memiliki luas wilayah 6.395,70 km² atau 639.570 ha (4,36% dari luas wilayah Propinsi Kalimantan Barat), merupakan wilayah Kabupaten yang terletak pada bagian pantai barat paling utara dari wilayah propinsi Kalimantan Barat. Panjang pantai ± 128,5 km dan panjang perbatasan negara ± 97 km.

Batas wilayah
Kabupaten Sambas terletak di antara 1’23” LU dan 108’39” BT dengan batas-batas wilayah administratif sebagai berikut:
Utara     Sarawak, Malaysia Timur
Selatan Kota Singkawang
Barat     Selat Karimata, Laut Cina Selatan
Timur    Kabupaten Bengkayang

Kabupaten Sambas yang terbentuk sekarang ini adalah hasil pemekaran kabupaten pada tahun 2000. Sebelumnya wilayah Kabupaten Sambas sejak tahun 1960 adalah meliputi juga Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang sekarang dimana pembentukan Kabupaten Sambas pada tahun 1960 itu adalah berdasarkan bekas wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas.

Demografi
Penduduk Kabupaten Sambas berdasarkan hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 berjumlah 496.116 jiwa terdiri dari penduduk laki-laki 244.569 jiwa dan penduduk perempuan 251.547 jiwa dengan kepadatan rata-rata 77,32 jiwa/km². Terdiri dari Suku Dayak, Melayu Sambas, China Hakka dan lain-lain. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Sambas berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana Kabupaten Sambas Tahun 2004 adalah 18.005 Kepala Keluarga miskin dengan jumlah 74.968 jiwa.

Sejarah
Sejarah Kerajaan Sambas berkaitan dengan Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Banjar. Kerajaan Sambas kemudian dilanjutkan olehKesultanan Sambas yang asal-usulnya tidak bisa terlepas dari kerajaan di Brunei Darussalam. Antara kedua kerajaan ini mempunyai kaitan persaudaraan yang sangat erat.
Pada zaman dahulu, di Negeri Brunei Darussalam bertahta seorang raja yang bergelar Sri Paduka Sultan Muhammad. Setelah beliau wafat, tahta kerajaan diserahkan kepada anak cucunya secara turun temurun. Sampailah pada keturunan yang kesembilan, yaitu Sultan Abdul Djalil Akbar.
Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8